ZAHRA MODELLING
ZAHRA MODELLING Merupakan Akademi Pelatihan bagi generasi muda yang memiliki bakat di dunia model khusus tempat pengembangan bakat diri dengan instruktur yang terlatih dan terpercaya.
ZAHRA MODELLING mempunyai sarana dan tempat latihan yang sangat memadai dengan ruangan ber AC dan tempat yang sangat strategis.
ZAHRA MODELLING mengutamakan pembentukan karakter remaja yang dinamis, percaya diri, serta memiliki kepribadian dalam bersikap. Penggalian potensi generasi muda untuk lebih siap menjadi model, figure, serta sekaligus memiliki jiwa entrepreneur.
ZAHRA MODELLING didukung pula dengan instruktur bersertifikasi serta jaringan kerja luas baik untuk model, photo grafer, model iklan, model busana, master of ceremony, dan acting. Profesionalitas dan dukungan jaringan mempermudah model untuk meniti karier di bidang modelling dan entertainment.
ZAHRA MODELLING dipimpin oleh profesional muda berbakat yang sudah ahli di bidangnya, punya banyak pengalaman di bidang entertainment waktu masih aktif di Pariwisata Kota Sawahlunto. Segudang prestasi telah ditoreh dalam membawa nama Sawahlunto ditingkat Provinsi dan Nasional, yang tak pernah lelah dalam mengambangkan kemajuan Kota Sawahlunto Menuju Kota Wisata Tambang yang Berudaya tahun 2020, baik semasa masih di Pariwisata maupun tidak, penasaran... siapa lagi kalau bukan SARLINA PUTRI, SE.
Rabu, 19 November 2008
Selasa, 18 November 2008
EMPATI
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro.
Suasana sepi. diluar hujan. Semua pelayan sudah berkemas restoran hendak tutup, tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka
memberi aba-aba untuk tetap melayani.
Padahal jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran.
Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal itu luput dari perhatian saya.
Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberdaaan mereka. seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat.
Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja.
Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. tetapi mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makanan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati : siapa sebetulnya yang baru bersantap di meja itu?
Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan. Sungguh pemandangan yang menjijikkan.
Tulang-tulang ayam berserakan diatas meja.
Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi disana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah.
Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikkan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.
sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makan jika bersantap di restoran semacam itu. saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama.
Awalnya tidak mudah, sebelum ini saya juga pernah melakukannya, tetapi perbuatan saya itu justru menjad bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan.
Sok menunjukkan pernah ke luarnegeri. sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak atau biasa pelanggan membuang sendiri sisa makanan mereka ke tong sampah. pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya ke tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali faedahnya bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar.
termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anak-anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu. Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan jadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu katapun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.
Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum, Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang di jumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu juga akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.,
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. tak peduli siapa yang berada dibelakang. sebab dari cerita di buku itu, orang yang di belakang saya pasti akan mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu.
Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari.
Pujian itu akan memberi effek berantai ketika orang yang anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "TERIMAKASIH" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. menurut dia, kata "terimakasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. sampai suatu hari isteri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. para supir kenderaan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?" nasihat iu diperoleh isteri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kenderaan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasehat isteri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkan jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran. begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja stelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan.
Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak diantara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh ke belakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang dibelakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil yang bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain.
Mulailah dari hal-hal kecil.
Mulailah dari diri sendiri.
Mulailah hari ini.
Semoga bermanfaat (by. Andi F. Noya).
Suasana sepi. diluar hujan. Semua pelayan sudah berkemas restoran hendak tutup, tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka
memberi aba-aba untuk tetap melayani.
Padahal jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran.
Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal itu luput dari perhatian saya.
Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberdaaan mereka. seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat.
Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja.
Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. tetapi mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makanan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati : siapa sebetulnya yang baru bersantap di meja itu?
Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan. Sungguh pemandangan yang menjijikkan.
Tulang-tulang ayam berserakan diatas meja.
Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi disana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah.
Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikkan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.
sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makan jika bersantap di restoran semacam itu. saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama.
Awalnya tidak mudah, sebelum ini saya juga pernah melakukannya, tetapi perbuatan saya itu justru menjad bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan.
Sok menunjukkan pernah ke luarnegeri. sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak atau biasa pelanggan membuang sendiri sisa makanan mereka ke tong sampah. pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya ke tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali faedahnya bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar.
termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anak-anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu. Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan jadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu katapun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.
Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum, Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang di jumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu juga akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.,
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. tak peduli siapa yang berada dibelakang. sebab dari cerita di buku itu, orang yang di belakang saya pasti akan mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu.
Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari.
Pujian itu akan memberi effek berantai ketika orang yang anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "TERIMAKASIH" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. menurut dia, kata "terimakasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. sampai suatu hari isteri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. para supir kenderaan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?" nasihat iu diperoleh isteri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kenderaan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasehat isteri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkan jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran. begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja stelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan.
Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak diantara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh ke belakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang dibelakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil yang bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain.
Mulailah dari hal-hal kecil.
Mulailah dari diri sendiri.
Mulailah hari ini.
Semoga bermanfaat (by. Andi F. Noya).
Indahnya malam pertama
Untuk bahan renungan ...
Indahnya malam pertama kita
Satu hal sebagai bahan renungan kita
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa
Justru malam pertama perkawinan kita dengan sang maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu... mempelai sangat dimanjakan
mandipun... harus dimandikan
Seluruh badan kita terbuka ...
Tak ada sehelai benangpun menutupinya
Tak ada sedikitpun rasa malu
seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
bahkan lubang-lubang itupun ditutupi kapas putih
Itulah sosok kita
Itulah jasad kita waktu itu
Setelah dimandikan
Kitapun dipakaikan gaun cantik berwarna putih
kain itu... jarang orang memakainya
Karena bermerek sangat terkenal bernama "kafan"
Wewangian ditaburkan kebaju kita
Bagian kepala... badan ...dan kaki diikatkan
Tataplah...tataplah... itulah wajah kita
Keranda pelaminan ... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...
Mempelai diarak keliling kampung
bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah dzikir
Akad nikahnya bacaan talqin...
Berwalikan liang lahat
Saksi-saksinya nisan-nisan... yang telah tiba duluan
Siraman air mawar ... pengantar akhir kerinduan
Dan akhirnya ... tiba masa pengantin
Menunggu dan ditinggal sendirian
Tuk mempertanggung jawabkan
seluruh langkah kehidupan
Malam-malam pertama bersama KEKASIH
Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah
Dikamar bertilamkan tanah
Dan ketika 7 langkah tlah pergi...
Kitapun kan ditanyai oleh sang malaikat
Kita tak tahu apakah akan memperoleh nikmat kubur
atau akan memperoleh siksa kubur
Kita tak tahu... dan tak seorangpun yang tahu
Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan
Padahal nikmat atau siksa yang akan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan airmata
Seolah barang berharga yang sangat mahal
Dan Dia kekasih itu... menetapkan mu ke syurga
atau melemparkan dirimu ke neraka...
Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga
Tapi... tapi... sudah pantaskah sikap kita selama ini...
Untuk disebut ahli syurga...???
Saya hampir membuang e-mail ini...
Namun saya telah diberi anugrah untuk
membaca terus hingga akhir, dan...
menghadirkannya lagi untuk yang membaca...
ALLAH, bila saya membaca e-mail ini,
saya pikir saya tidak ada waktu untuk ini
Lebih-lebih lagi diwaktu kerja
Kemudian saya tersadar bahwa...
Pemikiran semacam inilah yang
sebenarnya menimbulkan pelbagai
masalah di dunia ini.
Kita coba menyimpan ALLAH di dalam
MASJID pada hari Jum'at...
Mungkin malam JUM'AT?
dan sewaktu Sholat MAGHRIB saja?
Kita suka ALLAH diwaktu kita sakit...
dan sudah pasti waktu ada kematian.
Walaubagaimanapun kita tidak ada waktu atau
ruang untuk ALLAH waktu bekerja atau bermain
Karena...
Kita merasakan diwaktu itu kita mampu dan
sewajarnya mengurus sendiri
tanpa bergantung padaNYA.
Semoga ALLAH mengampuni aku
karena menyangka ....
Bahwa nun disana masih ada tempat dan waktu
dimana ALLAH bukanlah hal yang paling utama
dalam hidupku (nauzubillah).
Kita sepatutnya senantiasa mengenang
akan segala yang telah DIA berikan
kepada kita...
DIA telah berikan segala-galanya
kepada kita sebelum kita meminta.
ALLAH
Dia adalah sumber kewujudanku dan
penyelamatku
IA lah yang menggerakkan ku setiap detik
dalam nadiku dan hari dalam hidupku
TanpaNYA aku adalah AMPAS yang tak berguna
Susah vs Senang
Kenapa susah sekali menyampaikan
KEBENARAN???
Kenapa mengantuk dalam MASJID tetapi ketika
selesai ceramah kita segar kembali?
Kenapa mudah sekali membuang e-mail agama
tetapi kita bangga mem "forward" kan e-mail
yang tak senonoh?
Hadiah yang paling istimewa yang pernah kita terima
Sholat adalah yang terbaik... tidak perlu bayaran,
tetapi ganjarannya lumayan
Notes : Tidakkah lucu betapa mudahnya bagi manusia
TIDAK beriman pada ALLAH setelah itu heran
kenapakah dunia ini menjadi neraka bagi mereka.
Tidakkah lucu bila seseorang berkata :
"AKU BERIMAN PADA ALLAH TETAPI
SENANTIASA MENGIKUT SYAITAN "
(who, by the way, also "believes" in ALLAH).
Tidakkah lucu bagaimana anda mampu
mengirim ribuan e-mail lawak yang
akhirnya tersebar bagai api yang tidak terkendali,
tetapi bila anda mengirim e-mail mengenai ISLAM,
sering orang berpikir 10 kali untuk berkongsi?
Betapa lucu kita jalani hidup :
jika SMS masuk, kita cepat2 baca dan balas
Tapi kenapa waktu sholat masuk
kita tidak cepat laksanakan?
Isi ulang pulsa 100 ribu kita sanggup,
tapi kenapa sedeqah 10 ribu terasa berat.
waktu mandi macam2 lagu dinyanyikan
tetapi kenapa waktu mau makan
BISMILLAH pun kita lupa?
Bila pulsa habis susah payah kita tebus,
tetapi kenapa kita tidak tebus
DOSA-DOSA yang telah kita lakukan?
Tidakkah mengherankan bagaimana bila
anda mulai mengirim pesan ini
anda tidak akan mengirim kepada semua rekan anda
karena memikirkan apa tanggapan mereka
terhadap anda atau anda tak pasti apakah
mereka suka atau tidak?
Tidakkah mengherankan bagaimana anda
merasa risau akan tanggapan orang
kenapa saya lebih dari tanggapan ALLAH
terhadap anda
aku ber DO'A, untuk semua yang membaca
dan mengirim pesan ini kepada semua rekan mereka
semoga di rahmati ALLAH
semoga
Wassalam
Indahnya malam pertama kita
Satu hal sebagai bahan renungan kita
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa
Justru malam pertama perkawinan kita dengan sang maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu... mempelai sangat dimanjakan
mandipun... harus dimandikan
Seluruh badan kita terbuka ...
Tak ada sehelai benangpun menutupinya
Tak ada sedikitpun rasa malu
seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
bahkan lubang-lubang itupun ditutupi kapas putih
Itulah sosok kita
Itulah jasad kita waktu itu
Setelah dimandikan
Kitapun dipakaikan gaun cantik berwarna putih
kain itu... jarang orang memakainya
Karena bermerek sangat terkenal bernama "kafan"
Wewangian ditaburkan kebaju kita
Bagian kepala... badan ...dan kaki diikatkan
Tataplah...tataplah... itulah wajah kita
Keranda pelaminan ... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...
Mempelai diarak keliling kampung
bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah dzikir
Akad nikahnya bacaan talqin...
Berwalikan liang lahat
Saksi-saksinya nisan-nisan... yang telah tiba duluan
Siraman air mawar ... pengantar akhir kerinduan
Dan akhirnya ... tiba masa pengantin
Menunggu dan ditinggal sendirian
Tuk mempertanggung jawabkan
seluruh langkah kehidupan
Malam-malam pertama bersama KEKASIH
Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah
Dikamar bertilamkan tanah
Dan ketika 7 langkah tlah pergi...
Kitapun kan ditanyai oleh sang malaikat
Kita tak tahu apakah akan memperoleh nikmat kubur
atau akan memperoleh siksa kubur
Kita tak tahu... dan tak seorangpun yang tahu
Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan
Padahal nikmat atau siksa yang akan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan airmata
Seolah barang berharga yang sangat mahal
Dan Dia kekasih itu... menetapkan mu ke syurga
atau melemparkan dirimu ke neraka...
Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga
Tapi... tapi... sudah pantaskah sikap kita selama ini...
Untuk disebut ahli syurga...???
Saya hampir membuang e-mail ini...
Namun saya telah diberi anugrah untuk
membaca terus hingga akhir, dan...
menghadirkannya lagi untuk yang membaca...
ALLAH, bila saya membaca e-mail ini,
saya pikir saya tidak ada waktu untuk ini
Lebih-lebih lagi diwaktu kerja
Kemudian saya tersadar bahwa...
Pemikiran semacam inilah yang
sebenarnya menimbulkan pelbagai
masalah di dunia ini.
Kita coba menyimpan ALLAH di dalam
MASJID pada hari Jum'at...
Mungkin malam JUM'AT?
dan sewaktu Sholat MAGHRIB saja?
Kita suka ALLAH diwaktu kita sakit...
dan sudah pasti waktu ada kematian.
Walaubagaimanapun kita tidak ada waktu atau
ruang untuk ALLAH waktu bekerja atau bermain
Karena...
Kita merasakan diwaktu itu kita mampu dan
sewajarnya mengurus sendiri
tanpa bergantung padaNYA.
Semoga ALLAH mengampuni aku
karena menyangka ....
Bahwa nun disana masih ada tempat dan waktu
dimana ALLAH bukanlah hal yang paling utama
dalam hidupku (nauzubillah).
Kita sepatutnya senantiasa mengenang
akan segala yang telah DIA berikan
kepada kita...
DIA telah berikan segala-galanya
kepada kita sebelum kita meminta.
ALLAH
Dia adalah sumber kewujudanku dan
penyelamatku
IA lah yang menggerakkan ku setiap detik
dalam nadiku dan hari dalam hidupku
TanpaNYA aku adalah AMPAS yang tak berguna
Susah vs Senang
Kenapa susah sekali menyampaikan
KEBENARAN???
Kenapa mengantuk dalam MASJID tetapi ketika
selesai ceramah kita segar kembali?
Kenapa mudah sekali membuang e-mail agama
tetapi kita bangga mem "forward" kan e-mail
yang tak senonoh?
Hadiah yang paling istimewa yang pernah kita terima
Sholat adalah yang terbaik... tidak perlu bayaran,
tetapi ganjarannya lumayan
Notes : Tidakkah lucu betapa mudahnya bagi manusia
TIDAK beriman pada ALLAH setelah itu heran
kenapakah dunia ini menjadi neraka bagi mereka.
Tidakkah lucu bila seseorang berkata :
"AKU BERIMAN PADA ALLAH TETAPI
SENANTIASA MENGIKUT SYAITAN "
(who, by the way, also "believes" in ALLAH).
Tidakkah lucu bagaimana anda mampu
mengirim ribuan e-mail lawak yang
akhirnya tersebar bagai api yang tidak terkendali,
tetapi bila anda mengirim e-mail mengenai ISLAM,
sering orang berpikir 10 kali untuk berkongsi?
Betapa lucu kita jalani hidup :
jika SMS masuk, kita cepat2 baca dan balas
Tapi kenapa waktu sholat masuk
kita tidak cepat laksanakan?
Isi ulang pulsa 100 ribu kita sanggup,
tapi kenapa sedeqah 10 ribu terasa berat.
waktu mandi macam2 lagu dinyanyikan
tetapi kenapa waktu mau makan
BISMILLAH pun kita lupa?
Bila pulsa habis susah payah kita tebus,
tetapi kenapa kita tidak tebus
DOSA-DOSA yang telah kita lakukan?
Tidakkah mengherankan bagaimana bila
anda mulai mengirim pesan ini
anda tidak akan mengirim kepada semua rekan anda
karena memikirkan apa tanggapan mereka
terhadap anda atau anda tak pasti apakah
mereka suka atau tidak?
Tidakkah mengherankan bagaimana anda
merasa risau akan tanggapan orang
kenapa saya lebih dari tanggapan ALLAH
terhadap anda
aku ber DO'A, untuk semua yang membaca
dan mengirim pesan ini kepada semua rekan mereka
semoga di rahmati ALLAH
semoga
Wassalam
Langganan:
Postingan (Atom)
